Selasa, 03 April 2012

Kehendak Sang Hyang Tunggal

Sudah menjadi Kehendak Sang Hyang Tunggal..

Bila mangkok ‘darah’ penderitaan umat manusia sudah penuh…
Bila kejahatan manusia sudah melampau batas..
Beliau telah memproyeksikan diri Nya..turun kembali..
Mewujud diri sebagai manusia sempurna..

6500 tahun sudah Sri Kresna moksa..
Sri Kresna (Ratu Nur Muhammad) turun kembali dengan tinta emas..
Dialah titisan Batara Wisnu..
yang rumah Nya seperti buah salak..
yang wajah Nya manis sekali..

Para Batara/Dewa/Nabi/Rasul..hanyalah utusan Nya..
Pada ummat manusia..

Sungguh TIADA celaan atas mereka..
yg tercela adalah yg ‘TIDAK MAU’ mengikuti ajaran Nya..

Salam Rahayu (BY : RAJA DEWA)

Jadi menurut keyakinan ku 6500 th sri kresna moksa akan turun kembali?
dan sri kresna = ratu nur muhammad?

BA pingin belajar, kalau menurut sy, yg lebih dominan akan muncul kembali kedunia ini bukan kresna? tapi batara wisnunya?

ini alasan sy, menyimak cerita wayang, pabila dunia dikacaukan oleh keangkaramurkaan, mk menjadi tugas Bathara Wisnu pernah menjelma/menitis menjadi :
  1. Menjadi Matswa (ikan) untuk membunuh raksasa Hargraiwa
  2. Menjadi Narasinga (orang berkepala harimau) untuk mbinasakan Prabu Hiranyakasipu,
  3. Berupa Wimana (orang kerdil) untuk mengalahkan Ditya Bali.
  4. Ramaparasu untuk menumpas para gandarwa,
  5. Menitis pada Arjunasasra/Arjunawijaya untuk mengalahkan Prabu Dasamuka. 6. Menitis pada Ramawijaya untuk membinasakan Prabu Dasamuka,
  6. Menitis pada Prabu Kresna untuk menjadi parantara/penasehat agung para Pandawa guna melenyapkan keserakahan dan kejahatan yang dilakukan oleh para Kurawa.
  7. Sanghyang Wisnu juga pernah turun ke Arcapada menjadi raja Negara Medangpura bergelar Maharaja Suman untuk menaklukan Maharaja Balya, raja Negara Medanggora penjelmaan Bathara Kala.
  8. Menjadi raja di Negara Medangkamulan bergelar Prabu Satmata, untuk menaklukan Prabu Watugunung yang bertindak keliru dan nyasar mengawini ibunya sendiri.
Bathara Wisnu merupaka dewa keabadian – ini ditunjukan denga kulit tubuhnya yang berwarna hitam yang merupakan lambang keabadian – atau sebagai dewa Kesejahteraan. Karena tugasnya mensejahterakan dunia.

Adapun wahyu-wahyu yang diturunkan oleh Bathara Wisnu kepada umat di marcapada dan maknanya antara lain :

1. WAHYU PURBA

Kata Purba, menurut kamus Purwadarminta mempunyai arti memelihara.
Wahyu Purba mempunyai pengertian, Wisnu atau kebenaran Illahi itu bersifat memelihara, Ini suatu pelajaran hidup yang mengandung ajaran bahwa di dalam kehidupan alam semesta dengan segala isinya termasuk juga manusia, semua dipelihara oleh kebenaran Illahi. Dimana kehidupan alam semesta dan manusia akan mengalami keselarasan, keselamatan, ketenteraman, kebahagiaan dan kesejahteraan apabila nilai kebenaran bisa dihayati dan ditegakkan dengan baik dan benar.

Namun kenyataannya manusia percaya bahwa hidup ini dipelihara oleh kebenaran Illahi atau kebenaran Tuhan, masih juga terdapat ketidakbenaran dan kejahatan yang dapat menimbulkan kekacauan dan mengganggu keselarasan, kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan. Semua itu terjadi sebagai akibat terjadinya pelanggaran terhadap hukum kebenaran.

Untuk memelihara ketenteraman dan kesejahteraan dunia maka dewa Wisnu turun ke dunia menitis pada Prabu Arjunawijaya (Arjunasasrabahu) raja Negara Maespati, dan kepada Ramawijaya, raja Negara Ayodya.

2. WAHYU SEJATI

Sejati berarti ada, nyata, yang tunggal atau tidak dualistis. Wahyu Sejati berarti suatu kebenaran yang bersifat tunggal. Artinya bahwa kebenaran itu tidak memiliki sifat ganda atau berpasangan yang terdiri dari dua hal yang berbeda sifatnya atau berlawanan, seperti terang dengan gelap, benar dan salah, putih dan hitam atau merah, dan lain sebagainya.

Ini suatu pelajaran hidup bahwa di dalam kehidupan alam semesta dan isinya, termasuk manusia, hanya terdapat satu kebenaran, yaitu Kebenaran sejati, yaitu kebenaran Illahi. Apabila manusia hidup dalam kaidah-kaidah ajaran kebenaran yang sejati, maka kehidupan manusia akan memperoleh kedamaian, kekegotong-royongan yang dapat menumbuhkan sifat toleransi atau saling membantu dan saling menghormati.

Namun kenyataannya dalam menjalankan kehidupannya manusia masih mengulur-ulur nilai-nilai kehidupannya dengan ukuran yang tidak menentu. Kadang-kadang mengulur sesuatu dengan kebenaran Illahi, tetapi kadang-kadang mngukur suatu tindakan selaras dengan kepentingannya sendiri. Akibatnya tatanan kehidupan menjadi tidak menentu, kacau dan saling merugikan pihak lain. Timbulah kemudian sifat keserakahan dan keangkaramurkaan.

Untuk memulihkan dan memelihara keseimbangan kehidupan di dunia, maka dewa Wisnu turun ke marcapada menitis pada ramaparasu, putra Resi Jamadagni dari pertapaan Dewasana, dan kemudian menitis pada Lesmana, adik satu ayah Ramwijaya.

Wahyu sejati atau Wisnu yang menitis pada Ramaparasu adalah bertugas mengembalikan ketenteraman dunia sebagai akibat dari perbuatan keserakahan yang dilakukan oleh Raja Hehaya dengan perbuatannya merampas hak dan kemerdekaan orang lain. Raja Hehaya bukan saja telah membunuh para brahmana, termasuk Resi Jamagani ayah Ramparasu dan merampas harta miliknya, tetapi juga merampas harta rakyat.

Sedangkan Wahu Sejati yang menitis pada Lesmana merupakan pasanhan dari Wahyu Purba yang menitis pada Ramawijaya. Seperti kita ketahui antara Rama dan Lesmana sebenarnya selalu hidup berpasangan, bekerja sama membasmi segala bentuk kejahatan. Hal ini menunjukan bahwa Wahyu Purba dan Wahyu Sejati atau kebenaran Illahi yang bersifat memelihara dengan kebenaran Illahi yang bersifat tunggal, berhubungan erat sekali.

3. WAHYU WASESA

Wasesa berarti mempunyai kekuasaan, berkuasa, mengatur atau menguasai. Wahyu Wasesa berarti suatu kebenaran Illahi yang bersifat mengatur atau menguasai. Ini mengandung makna bahwa di dalam kehidupan alam semesta dan isinya, termasuk manusia diatur dan dilakukan oleh kekuasaan Illahi. Tegasnya satu-satunya pengatur dan pemerintah alam semesta dan isinya termasuk manusia adalah kekuasaan Tuhan.

Apabila semua manusia berpegang pada kaidah ini , maka manusia idupo tidak perlu harus merasa takut pada kekurangan, menderita, mengalami ketidak adilan, kehilangan kemerdekaan atau kebebasan.

Tetapi didalam kenyataannya sadar atau tidak sadar manusia masih percaya, bahwa hidup ini selain dikuasai oleh kebaikan atau kebenaran Illahi, masih bisa dikuasai oleh kejahatan. Bahkan kadang-kadang manusia takut dan taat kepada kejahatan daripada kebenaran illahi.

Ajaran yang terkandung dalam Wahyu Wasesam uakag syaty ajaran yang mengingatkan kepada kita semua agar bisa selalu sadar bahwa hidup ini ada yang mengatur dan menguasai. Wahyu Wasesa adalah Wisnu yang menitis kepada Sri Kresna, yang dengan kekuasaanya bertindak sebagai penjaga keseimbangan ketenteraman dan kesejahteraan dunia. Kedudukan Sri Kresna di sini hanyalah sebagai penasehat Agung pada satria penegak kebenaran yaitu para satria Pandawa.

4. WAHYU LUWIH ATAU LINUWIH

Menurut kamus Prwadariminta, Luwih atau linuwih mengandung arti : lebih, langkung atau pancuran. Wahyu Luwih adalah Wisnu atau kebenaran Tuhan yang bersifat memancar. Ini suatu pelajaran hidup bahwa kehidupan alam semesta berikut isinya, termasuk manusia, pada hakekatnya merupakan pancaran atau pernyataan hidup atau Tuhan sebagai sumber hidup. Seumpama air adalah sumber hidup, maka air yang mangalir dari sumber itu adalah pancarannya.

Wahyu Luwih memberi pelajaran hidup kepada kita agar disadari bahwa tujuan dan kewajiban hidup manusia di dunia adalah mencerminkan atau memancarkan sifat Khaliknya yaitu Tuhan YME. Semakin banyak manusia mencerminkan sifat Tuhan dalam hidupnya, maka akan semakin kaya manusia memiliki berkah dan kasih saying Tuhan. Antara Wahyu Wasesa dengna Wahyu Linuwih sebenarnya masih merupakan satu kesatuan, ibarat air dengan pancurannya. Ibarat Matahari, Wahyu Wasesa adalah mata harinya, sedangkan Wahyu Luwih adalah pancarannya.

Wahyu Luwih adalah ajaran Wisnu yang diterima oleh Arjuna, karena itu antara Sri Kresna dan Arjuna selalu hidup berdampingan dalam tugas kewajiban memayu hayuning bawana. Ibarat Api, Sri Kresna adalah apinya, sedangkan Arjuna merupakan cahaya terangnya.

5. WAHYU MURTI

Murti menurut kamus Jawa/Kawi mempunyai arti ; amor, menyatu/bersatu, gumolong, tunggil, linangkung, utuh dan semesta. Jadi Wahyu Murti mengandung arti ajaran Wisnu yang bersifat gumolong, utuh dan semesta. Ini suatu ajaran bahwa hidup alam semesta dan isinya termasuk manusia merupakan satu kesatuan yang utuh yang antara satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan. Karena yang satu merupakan bagian dari yang lain.

Karena alam dan isinya merupakan satu bagian yang utuh, maka menjadi kewajiban kita manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Menciptakan kedamaian dan kesejahteraan, serta memelihara keselarasan.

Wahyu Murti adalah ajaran Wisnu yang diberikan kepada Gunawan Wibisana. Karena itu Gunawan Wibisana selalu berusaha untuk ikut menjaga keseimbangan dan keselarasan dunia. Berkali-kali ia memperingatkan Rahwana, kakaknya, agar mengembalikan Dewi Sinta kepada Prabu Rama demi keselamatan Negara Alengka, karena Prabu Rama sesungguhnya satria penjelmaan dewa Wisnu.

Karena Wibisana dengan Wahyu Murtinya merupakan bagian daripada Wisnu, maka ketika ia akan menduduki tahta kerajaan Alengka – setelah berakhirnya perang Alengka – Prabu Rama melengkapinya degnan ajaran Hastabrata dengan tujuan agar Gunawan Wibisana menjadi seorang raja yang arif bijaksana, dicintai dan mencintai rakyatnya serta mampu menciptakan kesejahteraan, kedamaian, ketenteraman hidup bagi rakyatnya.

6. WAHYU MAKUTHA RAMA

Wahyu Makuhta Rama pada hakekatnya merupakan inti sari dari keseluruhan wahyu yang diturunkan oelh Dewa Wisnu yang merupakan gabungan dari inti sari Wahyu Purba, Wahyu Sejati, Wahyu Wasesa, Wahyu Luwih dan Wahyu Murti. Karena itu Wahyu Makutha Rama merupakan wahyu yang terakhir dari Dewa Wisnu sebab setelah mengajarkan Wahyu Makutha Rama kepada Arjuna dalam perwujudannya sebagai Bagawan Keswasidhi di Gunung Kutarunggu, dan berakhirnya perang Bharatayuda dengan musnahnya keluarga Kurawa yang merupakan lambing angkara murka, Dewi Wisnu tidak turun lagi ke Marcapada.

_Batara Krisna benar2 ada –berkulit putih berjubah dan mahkota emas
Batara Wisnu benar2 ada –wisnu disini yg asli batara — bukan yg wis nu(nggal)
Sang Hyang Tunggal benar2 ada –Sang Hyang Tunggal (Pencipta Alam Semesta)

Ibarat buah SALAK
kulitnya itu sri kresna
buah nya itu sri wisnu
biji nya itu Sang Hyang Tunggal

Buat saya pribadi, Yang 2 ini TAJALLI setiap saat (SYAHADAT SEJATI)
di sebelah kiri — Raja – Sang Hyang Tunggal – Leluhur Batara/Dewa-Maharaja/Mahadewa
di sebelah kanan – Ratu – Sri Wisnu / Sri Kresna

Kalau disebut Sri Kresna –itu merujuk kulit
Kalau disebut Sri Wisnu –itu merujuk isi
Kalau disebut Sang Hyang Tunggal –itu merujuk inti isi

kenapa Sri Kresna di sebut Ratu Nur Muhammad ?
ya..karena dia memakai mahkota Ratu…

_Percaya ada, tapi kenapa batara krisna berkulit “putih”?
ada berapa krisna sih? bukankah batara kresna berkulit hitam?

Badan/kulit = kresna
isi = wisnu
inti isi = Sang Hyang Tunggal

gemana kalau ini :
Badan = adam
isi = nur muhammad
inti isi = nurullah

badan dibuat dari 4 unsur (tanah, api, angin, air) …. ini benar2 ada bisa dibuktikan!

tanah, api dsb …. berasal dari nur muhammad (dari 7 lapis langit dan 7 lapis bumi) …… tanah warna hitam (wujud kita jiplak persis dgn warna hitam), api warna merah (ya wujud kita persis), angin warna kuning dan air warna putih dst …. ini benar2 ada bisa dibuktikan!

nur muhammad yg hitam dst ….. berasal dari nur allah
knp ada nur allah karena ada ‘hu’ (hidup) ……… inilah hidup sejati.

kalau tiga2nya kumpul (badan, isi & inti isi) maka itulah wujud kita pribadi.
Oleh krn itu mati yg sempurna yg kembali kpd masing2.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar